Tampilkan postingan dengan label Catatan Fiktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Fiktif. Tampilkan semua postingan

Sore Ini, Aku Bercinta Kembali dengan Hujan.


Everybody wants happiness, 
 nobody wants pain. 
 But, you can’t have a rainbow, 
without a little rain. 

Aku duduk di sini, di kursi taman yang sepi. Cuma tercenung, seperti orang linglung. Kulirik kursi kayu di sampingku. Hanya tampak satu botol bening yang sudah tak berisi di atas situ. Aku tersenyum mengamatinya. Ya, karena botol itu merupakan simbol kehidupanku: transparan dan kosong!

Biasanya, jika musim panas, taman ini tak pernah sepi. Di tepi danau buatan yang dikelingi rumput segar ini orang-orang berjemur, membaca, dan bercengkerama. Angsa-angsa berenang ke sana-kemari. Tupai liar berlari lincah mencari biji-bijian dan menikmatinya di lubang-lubang persembunyian.

Namun, musim panas baru akan tiba empat bulan mendatang. Sekarang, sedang musim penghujan.

Bahkan, saat aku duduk di sini, langit hitam berarak dari arah selatan memayungi taman kota ini. Embusan angin membikin permukaan danau menjadi beriak kecil, bergerak dalam pusaran, seperti debu tergulung angin.

Kemudian, angin berhenti berputar. Tak ada lagi gerakan sama sekali. Kecuali kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dengan gerakan penuh gesa—barangkali harus mencari perlindungan. Sebab, awan hitam di angkasa akan segera memuntahkan hujan. Bahkan, meledakkan petir, hingga memekakkan keheningan suatu sore di taman ini.

Dan, ya….

Dalam hitungan tak lebih dari sepuluh, rinai hujan berguguran dan menghunus kepalaku. Kupasrahkan hujan mencumbuku dan membiarkannya menari di atas kepalaku. Beberapa orang mungkin merasa suram saat hujan tiba. Namun, aku akan menyambutnya dengan sukacita. Aku tak marah-marah atau berlari ketakutan seperti yang dilakukan orang-orang saat hujan menyerbu mereka. Dengan hujan, seperti ada kebahagiaan yang kurasakan.

Kebahagiaan? Ah, telah lama aku merindu kata ini untuk mampir barang sejenak di kehidupanku. Ia seperti memudar, dan secepat kilat menghilang di balik kelambu kepedihan yang membekap setiap inci tubuhku.

Aku bahkan tak tahu lagi apa impianku sejak kebahagiaan mulai meredup. Sepertihalnya Cinderella, dulu, aku memimpikan seorang yang setia dan sudi menjagaku hingga akhir waktu.

Namun, sepertinya Cinderella lebih mujur ketimbang aku. Aku seperti telah terjebak karena mencintai seseorang yang lebih suka marah-marah. Sebenarnya, aku tak memedulikan pertengkaran-pertengkaran kecil yang seringkali menjadi kerikil tajam yang menghambat langkah kami. Namun, aku benar-benar seperti tercabik-cabik saat mendapati ia telah berkhianat: mengisap setiap putik lain yang berkelopak lebih indah.

Jika Cinderella berhasil mewujudkan setiap impian-impiannya yang berserakan, tidak denganku. Aku lebih dulu mematahkan impian Cinderella-ku karena aku seperti dibutakan saat permasalahan bertubi-tubi menyergapku hingga terpuruk dalam batas kepedihan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, sampai suatu hari, hujan mengepungku.

Dan, ya, aku bercinta dengan hujan malam itu.

Seperti malam itu, sore ini aku kembali bercinta dengan hujan. Di tengah desahan panjangku, aku seperti menginsyaratkan pada hujan, bahwa aku benar-benar membutuhkannya. Dan, sore ini, hujan masih mencumbuku dengan mesranya. Gigil yang dalam sampai menusuk belulang tak kuhiraukan. Karena seperti yang kukatakan sebelumnya, hujan bagiku adalah kekasih setia yang bisa kuajak bercerita—bahkan tentang aib—tanpa takut disiarkan ke banyak orang.

Setiap selesai bercinta dengan hujan, aku seperti mendapatkan mukjizat yang luar biasa—bahwa aku harus kembali memercayai “mantra”  Cinderella: “If you keep on believing, the dreams that you wish will come true”. Lalu, satu kesadaran seperti menamparku, bahwa senantiasa memendam perasaan pahit di masa lalu hanya akan menambah banyak kenangan buruk di masa sekarang. Maka, satu-satunya jalan agar aku bisa terus menatap masa depan adalah dengan memaafkan masa lalu dan melupakannya dengan perasaan gembira.

“Sebagai manusia, kita memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai. Untuk dapat melakukannya, kita harus mencintai diri kita terlebih dahulu. Itu berarti, berdamai dengan hal-hal yang sudah terjadi dalam hidup kita, dan melanjutkan hidup dengan terus melangkah ke depan.”*

Aku percaya, suatu saat akan kembali bangkit dan menemukan kebahagiaanku, sepertihalnya Cinderella yang berhasil menemukan sang Pangeran impian yang menjadi pusat kebahagiannya.

I just see happiness when it rains.
So, God, please don’t stop the rain!

*Cosmopolitan Men Indonesia, Edisi II/ 2013

Antara Horni, Onani, & Ikan Mas


Saya sering kali bertanya-tanya dalam hati saat melihat ikan mas dekil di sebuah tempat kos milik seorang teman, seperti ini: “Bagaimana perasaan saya jika saja keadaan saya tidak ubahnya seperti ikan mas ini? Terkungkung dalam sebuah kotak yang tidak mungkin dapat membiarkanya bebas lepas.”

Dan terkadang pula saya menduga-duga, pasti berada di dalam kotak kaca seukuran ini, terasa sempit. Aroma airnya barangkali membikin muak dan menjijikkan. Hanya berkeliling sebatas ruang itu-itu saja. Sendiri. Tanpa teman. Pasti hidupnya terasa kosong dan hampa. Merasa terasing. Merasa tidak beruntung ditakdirkan hidup. Dan, upsss... tidak ada lawan betina buat melampiaskan hasrat mumpuni ketika horni. Bahhh... m e m u a k k a n! M-E-M-U-A-K-K-A-N!


Tentu saja memuakkan. Sebab tidak ada lawan betina, otomatis tidak akan ada aktivitas seks. Kecuali jika sesekali melakukan onani. Yaiksss.... God! Omong-omong soal onani, sampai mati saya tidak akan melakukannya lagi. Lebih tepatnya, menekan intesitas melakukannya. Karena ternyata, onani bisa mengakibatkan bahaya bagi sperma dan bahkan penis itu sendiri. Sahabat saya sendiri pernah merasakannya. Bahwa ia terkena ejakulasi dini. Bahkan menurutnya, spermanya cair seperti air. Oh no!


Lebih parahnya, saya takut jika harus rutin check up ke dokter andai kelak saya terkena dampak dari keseringan membuang “benih”. Selain buang-buang banyak biaya, tentunya saya merasa tak enak hati jika sang dokter kelamin yang memeriksa saya adalah perempuan muda berpostur semok seperti Megan Fox. Oh my God! Bisa-bisa saya bakal muncrat hanya dengan sekali usap.

Supermodel


Fashion put it all on me/ I am anyone you want me to be

[Fashion - Lady Gaga]



Beberapa hari kemarin, saat perayaan ulang tahun ke-25 duo desainer kenamaan asal Italia, Domenico Dolce & Stefano Gabbana di Milan Fashion Week: Dolce & Gabbana Fall 2010 Collection, aku menjadi salah satu di antara 75 model berbalut koleksi terbaru Dolce & Gabanna tersebut.

Sudah lama aku memimpikan ini: menjadi male supermodel kelas dunia—yang melintang di dunia fashion internasional. Dan akhirnya, semua impian itu (dengan tidak mudah) telah kuraih. Dengan perjuangan yang keras, sampai akhirnya dunia fashion mencatat diriku sebagai salah satu supermodel yang disejajarkan dengan Tyson Beckford, Chace Crawford, Douglas Booth, Ben Barnes, Ashton Kutcher, Marcus Schenkenberg, Mark Vanderloo, Michael Bergin, dan bahkan, dengan mudah aku bisa berbaur dengan supermodel wanita favoritku: Kate Moss, Naomi Campbell, Carey Mulligan dan Tyara Banks.

Dan kau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang supermodel, huh? Benar-benar melelahkan. Aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan. Aku juga sering diburu deadline. Dan bahkan, jangan harap aku bisa menyempatkan diri untuk mencari pacar, jika saja aku tidak bisa menyesuaikan jadwal. Terkadang aku harus bolak-balik dari Indonesia – New York – Jepang – Italia – Perancis, dan berbagai Negara lain hanya untuk mengikuti fashion show. Fiuh!

Di sisi lain, aku bangga, sebab aku bisa menjadi pemakai pertama high class fashion brands, seperti: Prada, Dolce & Gabanna, Chanel, Louis Vuitton, Versace, Aigner, Yves Saint Laurent, Armani, Jimmy Choo, Alexander McQueen, Gucci, Calvin Klein, dll.

# 9. Someday This Pain Will Be Usefull to You


AKU terperangkap dalam dunia yang penuh kegilaan dan kebanggaan. Aku tidak tahu, apakah ini fakta atau tidak. Aku tidak peduli tentang hal itu. Jika orang-orang melakukan hal-hal yang selalu mereka ingin lakukan adalah masalah mereka, aku tidak seperti itu. Sebenarnya, dunia ini tidak terlalu penting lagi bagiku. Hal yang membingungkanku adalah bahwa mengapa dan alasan apa yang menyebabkan aku bisa berada di dunia ini?

Bisikan yang sebenarnya tidak perlu menggantung di otakku, dan intinya adalah, aku ingin menghadapi kepunahan kehidupanku sendiri.

Kepunahan?

Bukankah kata itu biasanya digunakan untuk binatang?

Oh, tidak, tidak diperlukan jika kau benar-benar mengerti arti dari itu.

MOHON MAAF, SEBAGIAN CERITA INI SAYA DELETE, KARENA TELAH DIPUBLIKASIKAN DI MEDIA CETAK DENGAN SEBAGIAN CERITA YANG SAYA GUBAH DAN JUDUL YANG SAYA RUBAH SEPENUHNYA. TERIMA KASIH. :)

#8. Dia, Ibu dan Serigala


BANYAK orang yang mengatakan bahwa Dia memiliki kehidupan yang baik. Tapi sebenarnya, tak seorang pun yang dapat melihat adanya rasa sakit yang membakar jiwanya—seperti amukan api pada sebuah belantara yang beberapa waktu lalu dikeringkan oleh kemarau panjang. Dia seringkali melalui hal-hal yang barangkali sangat jauh dari bayangan sesiapapun, dan ia selalu berdoa agar tak seorang pun harus beradaptasi dengan rasa sakit yang sama seperti yang dimilikinya seperti saat ini.

MOHON MAAF, SEBAGIAN CERITA INI SAYA DELETE, KARENA TELAH DIPUBLIKASIKAN DI MEDIA CETAK DENGAN SEBAGIAN CERITA YANG SAYA GUBAH DAN JUDUL YANG SAYA RUBAH SEPENUHNYA. TERIMA KASIH. :)

#7. I Think She’s a Little Bit in Love With Me


INI adalah sore yang terindah ketika aku duduk dan membaca majalah di sebuah kedai kopi di kawasan Times Square. Matahari di musim semi membuat penduduk kota beraktivitas di luar rumah setelah beberapa pekan sebelumnya salju tampak menghiasi jalan-jalan kota. Musim semi merupakan saat berseminya harapan. Bisa juga berseminya cinta yang pupus di musim gugur. Sebuah siklus kehidupan yang banyak ditunggu-tunggu mereka yang hidup di negeri dengan empat musim, disamping tentunya musim kehangatan. Musim panas.

MOHON MAAF, SEBAGIAN CERITA INI SAYA DELETE, KARENA TELAH DIPUBLIKASIKAN DI MEDIA CETAK DENGAN SEBAGIAN CERITA YANG SAYA GUBAH DAN JUDUL YANG SAYA RUBAH SEPENUHNYA. TERIMA KASIH. :)

#6. Detik Terakhir


SEORANG gadis cilik berusia 12, duduk tercenung di sisi jendela. Matanya menatap tajam ke arah langit sore. Tatapannya tampak kosong. Warna kulitnya begitu pucat. Sehingga membikin gadis itu tampak seperti mayat.

Matahari berwarna merah yang sejak tadi ia perhatikan, perlahan bersembunyi di balik peraduannya. Matanya mengikuti matahari yang hendak beringsut secara perlahan. Bertahap akan tergelincir ke sisi lain dunia. Mata cokelat gelapnya yang sedaritadi seperti tak memiliki intrik kehidupan, kini tampak berbinar seperti matahari itu sendiri.

Begitu awan biru telah diselimuti guratan-guratan merah, ungu dan nila, gadis itu ke luar kamar, lalu memanjat ke atap. Semilir angin senja memberikan kecupan lembut pada kulit pucatnya. Segumpalan rambut yang ia biarkan tergerai, melambai-lambai dan beberapa di antaranya rontok akibat dipermainkan oleh sang angin.

Biasanya, ketika senja beranjak menyelimuti bumi, akan ada beberapa anak yang memandang ke luar jendela demi memasati saat-saat matahari terbenam; biasanya, pasangan akan duduk di sebuah bukit untuk menyaksikan matahari terbenam. Tapi, gadis itu mencoba memperlihatkan potret lain tentang bagaimana cara menikmati sunset—dengan mendaki dinding bangunan dan berakhir dengan duduk menekuk lutut di pojok atap berbentuk kubus itu.

#5. The Invisible Boy


SAAT aku terbangun dan mendengar gemericik hujan dari jendela, aku menduga bahwa aktivitasku hari ini tidak akan menyenangkan. Aku telah meninggalkan rumah saat bertengkar dengan ibu tentang cara dia memasak telur untukku yang masih meler dan setengah matang. Aku benci itu. Baiklah, tak apa jika saja aku hanya memberitahu tentang ketidaksukaanku hanya sekali, namun aku telah mengingatkannya berulang kali, bahwa aku membenci telur setengah matang—yang terkadang jika kusenggol sedikit saja, kuning telur itu akan meler! Menjijikkan memang!

Sepertinya Ibu tidak pernah mendengarkanku, jujur saja, aku merasa bahwa terkadang aku adalah seorang anak laki-laki yang tidak terlihat, hingga membikin ibu selalu mengacuhkanku. Sial! Aku lalu membanting pintu dan berangkat ke sekolah. Dan ternyata, sekolah tidak lebih menyenangkan daripada rumah. Sebab aku gagal ujian matematika, karena nilaiku benar-benar jelek! Karena itu, Bu Mega mengatakan, bahwa dia harus berbicara dengan orang tuaku, dia mulai berpikir bahwa aku sekarang mulai bengal dan 'menantang'. Sungguh, aku membenci si guru berbadan buntal itu. Fiuh!

#4. Penyesalan Kirana


KUSESAP sekali lagi secangkir kopi susuku sembari memandang langit jingga sore itu. Sudah hampir sepuluh menit aku duduk di sebuah gubuk di Caringin Tilu, namun, tiada sepatah katapun yang diucapkan oleh Kirana, pacar sahabatku. Sebelumnya, gadis cantik itu pernah bilang padaku, bahwa dia ingin aku mengajaknya kemari karena dia pengin curhat tentang kisah cintanya dengan Marlon, sahabatku.

Awalnya aku tak ambil peduli dengan apa yang dialami oleh Kirana. Toh, aku bukan siapa-siapa dia. Bahkan, pertemanan kami juga tidak terlampau akrab. Meskipun secara jujurnya, dulu aku pernah naksir sama dia. Ya, dia adalah gadis pertama yang membikin aku jatuh cinta. Gadis yang membuatku rajin kuliah hanya untuk bertemu dengannya. Gadis yang begitu baik, terlalu baik untuk disakiti hatinya.

Fiuhhh… tapi itu dulu. Dan sekarang, aku tidak lagi sanggup untuk memantau setiap aktivitasnya. Karena pasti aku akan cemburu setiap kali melihat kemesraannya bersama dengan Marlon, sahabatku. Barangkali dia menjadikanku sebagai tempat curhatnya, karena aku adalah sahabat dekat dari pacarnya. Sehingga dia berpikir, bahwa aku bisa menjadi mediasi untuk mempersatukan kembali cinta keduanya. Ya, mungkin saja.

#3. Kematian Marisa


SEJAK kecil, Alfian memang dididik oleh keluarga yang penuh aturan dan kekangan. Sehingga ketika dewasa, menjadikannya sosok pemuda yang pemberontak dan mendambakan kehidupan bebas. Dia memiliki hobi dan keterampilan lebih di dunia musik. Sebab dia bercita-cita menjadi seorang musisi dan komposer hebat yang kelak namanya bisa melegenda. Namun, impian itu nampaknya terbengkalai, dan barangkali dia kini tidak mungkin lagi untuk mewujudkan cita-cita itu. Sebab ayahnya tidak mengizinkan darah seni mengalir dalam diri Alfian. Sang ayah yang otoriter menginginkan Alfian menjadi seorang pegawai kantoran sepertinya.

Suatu ketika, Alfian benar-benar muak atas kekangan sang ayah. Sehingga, ketika semester dua masa perkuliahannya di Sekolah Bisnis, tanpa sepengetahuan keluarga, dia berhenti menjalani perkuliahan di sekolah tersebut, sebab dia lebih memilih untuk masuk di Institusi Seni ketimbang fakultas yang dia sendiri tidak meminatinya. Namun, melihat tindakannya yang semena-mena, membuat ayahnya naik pitam dan mengusirnya dari rumah. Lantas saja dengan senang hati dia memenuhi keinginan sang ayah.

Setelah pergi dari rumah, Alfian hidup sendiri di sebuah kost yang keberadaannya dekat dengan fakultasnya di institusi kesenian di Jakarta. Dia pergi tanpa membawa cadangan finansial yang memadai. Sebab ketika itu, ayahnya menyita ATM-nya. Sehingga, hal itulah yang mendorongnya untuk mencari uang dengan cara yang kotor dan sangat menjijikkan. Harus bagaimana lagi? Sebab dia sudah kepepet dan terpaksa melakukan ini. Atas bantuan salah seorang rekan, dia diperkenalkan oleh seorang perempuan yang usianya dua kalilipat darinya. Wanita itu berjanji akan memberikan finansial di kehidupannya, dengan syarat dia harus mau menjadi lelaki “brondong” simpanan perempuan yang bernama Marisa itu.

#2. There’s Something About Clarissa


(ilustration from google.com)

CLARISSA tampak kecewa ketika dia dan keluarga diundang untuk datang pada malam perjamuan di rumah orangtua David—lelaki yang menurutnya “cupu” dan sejak SMA menaksir dirinya. Clarissa enggan datang karena dia tahu bahwa malam itu akan ada kesepakatan perjodohan yang tidak dia inginkan: antara dirinya dengan si cupu, David.

Aku tak pernah melihat Clarissa semuram ini. Sungguh. Oh, ternyata, cinta yang dipaksakan bisa mengubah seseorang menjadi sosok di luar kebiasaannya. Aku kasihan padanya. Sungguh!

Aku mengenal Clarissa sejak pertamakali masuk SMA. Tepat ketika kami melangsungkan MOS. Aku teringat, bahwa ia dahulu—juga sampai sekarang—adalah sosok gadis yang memiliki daya tarik yang sangat spesifik. Cantik, dan yang lebih mencengangkanku, dia adalah gadis yang smart. Lebih-lebih dia sangat pandai berorganisasi, tak salah jika dia pernah menjabat di bagian OSIS bersamaku.

Dia juga menyukai dunia kepenulisan, bahkan dia dipercaya untuk mengasuh rubrik tetap di suatu majalah remaja. Dia seorang announcer di radio yang sama denganku. Juga model. Jadi, tidak heran jika baru masuk sekolah saja namanya cepat melambung menjadi sosok primadona sekolah. Yang aku herankan, meski banyak lelaki tampan yang mengejar cintanya, tapi dia tidak bergeming sedikit pun untuk memilih di antara sekian lelaki tampan yang menaksirnya.

#1. Surat Elektra

Cerpen ini pernah dipublikasikan di weblog resmi GagasMedia Juni 2010

"you are a great storyteller"
[Christian Simamora]


Fiuh!
Pagi yang basah. Hujan semalam nampaknya belum usai, masih menyisakan gerimis yang merendam rerumputan di taman belakang rumah kontrakan yang kutempati. Dari balik lekukan teralis jendela, kucoba amati percikan air yang tempias meluncur dari atap genting. Pagi ini, aku benar-benar menjadi sosok yang linglung. Mungkin ini sebagai efek ketika aku mengangeni sahabat karibku, Elektra Antonio Lebenzon, yang sudah beberapa hari ini pergi tanpa ada kabar. Tak seorang pun yang tahu dia sedang berada di mana. Entahlah, barangkali dia tengah bersenyawa dengan langit, atau mungkin tengah berserah diri kepada samudera.

As I told you, aku dan Elektra adalah seorang mahasiswa semester akhir di Fakultas Ilmu Antropologi, National University of Colombia. Aku seorang yang berasal dari Indonesia dan bersuku Melayu, sedangkan Elektra, seorang asli Tibetan[1]. Nampaknya, akan banyak orang yang mengira jika Elektra merupakan sebuah nama yang disandang perempuan cantik, seperti yang tergambar dalam komik Frank Miller atau film karya Rob Bowman yang berjudul sama, Elektra. Namun ternyata malah sebaliknya, Elektra, sahabatku, merupakan sosok lelaki tampan dengan sejuta pesona, dan tak heran jika dia adalah sosok yang menjadi dambaan setiap gadis-gadis yang terpikat oleh pesonanya.

Tak banyak pula orang yang tahu jika dia adalah seorang Tibetan, dan mengiranya seorang keturunan Cina, termasuk aku. Meski sudah lama tinggal satu tempat dengannya di Bogota, namun, baru seminggu yang lalu aku tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Dan aku baru menyadari, bahwa seusai perbincangan yang penuh kedekatan itu, lantas dia menghilang dari kebersamaanku. Sebab dia harus pulang ke kampung halamannya di Bucaramanga. Dan setelah itu, tak ada lagi kabar darinya hingga kini.

Lagu My One True Friend[2] mengalun di playlist handphone-ku. Namun, secara mendadak lagu itu berhenti dan menandakan ada sinyal SMS masuk. Aku membukanya. Dan alangkah terkejutnya, ketika aku membaca SMS dari nomor yang tak kukenal, dan dibagian akhir SMS tersebut terselipkan satu nama; Elektra. Aku membaca dengan seksama.

“Aksan, apa kabarmu, Sobat? Hmm… aku yakin, saat sekarang kau sedang galau mencari tahu tentang keadaanku. Saat ini, aku masih beruntung sebab Izrail masih berbaik hati, dan membiarkanku bernafas untuk beberapa saat, sehingga aku berkesempatan untuk memberimu kabar tentangku. San, perlu kau tahu, sekarang aku sedang berserah diri menunggu ‘masa itu’ tiba di sebuah rumah sakit di Bucaramanga. Jika kau ingin tahu lebih jauh tentang keadaanku, kau bisa menjengukku di sini. Meski ketika kau datang nanti, barangkali aku sudah pergi. —Elektra.”

Catatan Kecil Tentang (Ke)rindu(an)


1

Setangkai Sunyi

Pada suatu malam, kudengar langkah sepi semakin mendekat. Langkahnya tampak berat dan terdengar berderat. Rebah perlahan menemani lamunanku. Terkadang aku berfikir; Betapa hidupku telah menjadi sia-sia untuk dipertahankan. Sebab ketika kudengar langkah sepi mendekat dalam setiap malamku. Datang perlahan lantas menancapkan setangkai sunyi di taman hidupku. Membuatku semakin terlunta merana dalam sepuhan senyap.

Perlahan kupetik setangkai sunyi yang tanpa kutahu seperti apa warna kelopaknya? Perlahan kuraba setangkai sunyi yang membuatku bertanya-tanya; Masihkah akan kutemui kehidupan semerbak dengan perpaduan warna yang cemerlang? Benar masihkah ada keindahan nun menakjubkan di kehidupan yang penuh ketidaknyamanan?

2

Setangkai Rindu

Dari balik malam, kudengar langkah senja datang. Memboyong kembali kesunyian yang terasa semakin senyap. Hanya terpekur sendiri. Memandangi potret kekasih yang tiada (pernah) jua (men)jumpa(i). Setitik air menggenangi mata ketika setangkai rindu menancap di hati. Membuatku semakin berkelebat rindu dalam labirin beku.

3

Setangkai Cerita

Dengan berkelebat sunyi dan (ke)rindu(an), sengaja kutulis cerita ini supaya menjadi catatan kecil akan dilema yang tengah kurasa; akibat sunyi dan (ke)rindu(an). Biar, suatu saat nanti akan kupertunjukkan catatan-catatan kecil ini pada kekasihku. Biar dia tahu, kalau aku begitu kangen. Biar dia sadar, bahwa aku adalah manusia yang masih punya rasa—yang butuh kasih sayang dan juga cinta. Dan biar dia merasa, bahwa aku adalah tipe kekasih yang setia. Meski (ke)sepi(an), tetapi aku tetap menanti dia kembali. Dan tanpa sabar, ingin segera kukatakan padanya; "Honey, I love you forever and every 'single' day." Lantas kupeluk dia (kekasihku) dengan penuh erat, sembari menghadiahinya dengan kecupan sayang pada keningnya. Biar dia dapat merasakan kasih-sayangku yang benar tulus tercurah untuknya.

Bandung, in the kost, 271109, 11.00pm.