Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Rumah Pertama


If you keep on believing, the dreams that you wish will come true. 
[Cinderella]


Saya kangen dengan susana rumah saya. Meski beberapa bulan lalu sempat pulang ke kampung halaman, tetapi perasaan kangen saya pada suasana rumah dan kehangatan keluarga belum benar-benar terlampiaskan. Saya merindu banyak hal. Karena bagi saya, suasana rumah menawarkan kehangatan yang hingga kini belum saya dapatkan di sudut tempat lain.
Entah mengapa, tiba-tiba saya teramat merindukan (suasana) rumah pertama. Sejujurnya, saya pernah tinggal di sebuah rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Berdinding kayu tipis, dengan tiang penyangga berupa kayu tua yang dipahat asal-asalan. Bahkan, di bagian belakang rumah gubuk saya tersebut beratapkan daun rumbia.

Itulah rumah pertama saya—sejak dilahirkan hingga kelas 6 SD. Saya ingat, rumah saya tersebut dicat menggunakan kapur berwarna putih, sementara jendela dan pintunya dicat berwarna biru tipis. Ada banyak kehangatan yang saya rasakan di rumah pertama tersebut.

Bahkan, rumah pertama juga menjadi saksi kedekatan antara ayah dan saya, dulu. Di dalam rumah itu pula, ayah terlihat bangga ketika saya kecil berucap tentang cita-cita untuk pertama kalinya, bahwa saya ingin menjadi profesor dan orang yang dikenal!

Ada banyak hal yang saya ingat tentang masa lalu di rumah pertama. Namun, hal yang paling saya rindukan adalah saat saya sering mengikuti kegemaran ayah minum teh, (biasanya) saat menjelang malam. Dulu, saat saya kecil, ayah akan minum teh di ruang keluarga sembari memasang telinga pada pesawat radio bututnya yang menyiarkan program berita.

Dulu, ayah sering mendengar program berita di radio yang menyiarkan tentang negara-negara di luar negeri. Irlandia. Sampai sekarang, ketika mendengar negara tersebut, hati saya terenyuh. Karena saya kecil terobsesi ingin menginjakkan kaki di negara yang dulu tak pernah saya ketahui berada di belahan bumi mana, tetapi sering saya dengar dari radio milik ayah saya tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, seperti ada sekat antara ayah dan saya. Ayah terlalu sibuk dengan kegiatannya. Kelak, ayah saya berhasil, dan kami sekeluarga tidak lagi tinggal di rumah pertama. Namun, sejak ayah dan saya jarang bertemu, ada banyak kejadian di luar rumah yang membikin saya bersedih (bahkan trauma) saat mengingatnya.

Sejak itulah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman saya bertepatan dengan diresmikannya rumah baru. Ya, sejak masuk SMP, saya memutuskan menjadi anak kos—sehigga, intensitas saya berkumpul dengan keluarga di rumah pun berkurang. Ditambah lagi, saya sudah hidup sebagai anak kos karena jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh. Bisa memakan waktu lebih dari 30 menit dengan menumpang angkutan desa. Belum lagi, saya harus berjalan kaki sejauh 3 km dari tepi jalan raya untuk menuju sekolah yang berada di pelosok—melewati jalanan berkelok dan berlumpur, dengan hamparan sawah yang memenuhi pandangan di kiri dan kanan.

Dan, ketika SMA, saya pun tinggal di asrama. Biasanya, saya hanya berkesempatan pulang setiap satu bulan sekali—itu pun pulang di Sabtu siang dan harus kembali ke asrama Minggu sore. Menyedihkan, memang.

Untuk itulah, saya menjadi kurang familier dengan rumah kedua. Setiap pulang ke rumah, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Selama bertahun-tahun, saya mencoba mengakrabi rumah kedua, mencoba mencari kehangatan seperti yang saya dapatkan saat di rumah pertama. Namun, saya baru bisa mendapatkan kehangatan di rumah kedua beberapa tahun kemudian, ketika hubungan ayah dan saya kembali terjalin lebih akrab—meskipun saat hal tersebut terjadi, saya sudah menetapkan tujuan untuk menjemput impian-impian saya yang semakin berkobar; dengan pindah ke Bandung untuk alasan pendidikan.

Sejujurnya, sejak kecil saya memang ingin cepat menjadi dewasa dan mandiri. Saya bercita-cita ingin meninggalkan kampung halaman dan hidup di kota besar semacam Jakarta agar mengejar impian saya; karena sejak kecil saya percaya, saya akan lebih berkembang jika hidup di lingkungan perkotaan. Saya ingin menguasai bahasa Inggris—karena sejak kecil saya ingin menginjak tanah Irlandia (dan New York)—tetapi di kampung saya tidak ada sama sekali fasilitas kursus. Saya ingin menjadi penyanyi dan musisi andal, tetapi saya tidak tahu harus mengawalinya dari mana. Saya juga ingin menjadi pelukis dan penulis andal, tetapi yang saya lakukan hanya belajar otodidak. Seperti yang saya bilang, sejak kecil, saya memang memiliki misi untuk menjadi orang besar dan terkenal.

Meski sangat sederhana, tetapi bagi saya, rumah pertama tetap tak terlupakan. Banyak kisah manis yang terjalin antara saya dan keluarga—terutama ayah. Rumah pertama juga menjadi saksi akan impian-impian yang saya tulis dalam kertas-kertas yang kemudian saya masukkan ke dalam botol, lalu saya kubur di bawah pohon manga di samping rumah pertama tersebut—dan suatu hari, botol tersebut raib. Rumah pertama juga menjadi saksi bahwa saya bercita-cita tinggal dan mengurai impian di kota besar semacam Jakarta.

Dan, kini, di sinilah saya, di kota yang sempat saya dengungkan saat kecil—Jakarta. Berharap, saya berhasil menjaga impian saya agar tidak memudar, hingga impian tersebut dapat terwujud satu-satu. Saya ingin ke Irlandia, dan menetap beberapa waktu di New York City sembari menjalin strategi untuk mewujudkan impian-impian selanjutnya. Saya percaya, someday… I will![]

Teman Perjalanan


Saya berdiri di lantai teratas sebuah kapal penyeberangan Bakauheni – Merak. Kapal kecil dengan ratusan manusia yang menggelepar di lantai, karena tak tercukupinya ruangan berkursi. Saya sendiri. Merasa terasing di tengah keramaian. Hanya menatap setiap inci sudut kapal yang berubah limpahan manusia yang bersesakan. 

Perlahan, saya tatap hamparan langit yang menghitam pekat. Puluhan bintang berkerlip, menempel pada dinding malam. Bahkan, pekat antara langit dan lautan tak mampu saya bedakan—karena seperti tak ada batas antara keduanya; laut dan langit seakan menyatu. Hitam. Ya, sejauh mata memandang, hanya hamparan hitam yang saya temukan. 

Pijar lampu membuat badan kapal ini terasa remang-remang. Saya tahu, di sudut kapal ini ada sepasang muda-mudi yang sedang bercumbu; beberapa pria sedang mengembuskan asap dari mulutnya yang bau tembakau; pedagang asongan berkeliling menawarkan mi dan kopi dalam gelas; sementara saya tak henti mengamati ragam manusia di kapal ini. Dan, saat itulah tatapan saya bertemu pandang pada seseorang yang sedang berdiri beberapa senti dari saya. Matanya yang teduh dan tatapannya yang hangat, membikin saya seketika canggung.

Saya, malam ini mengenakan kemeja merah muda, dipadu dengan celana cinos warna cokelat. Sembari bersandar pada tiang pembatas kapal, saya terus melayangkan pandangan pada apapun yang ada di sekitar saya. Tiba-tiba, dengan keadaan saya yang hanya sendiri, saya berharap akan ada seseorang yang mengajak saya berbincang malam ini.

Saya kembali melirik sekilas seseorang tersebut. Kali ini, perhatiannya tertuju pada hamparan pekat di sekelilingnya. Sementara saya berpikir: betapa mengerikannya jika mesin kapal ini rusak, atau nahkoda yang tiba-tiba membawa kapal ini berlabuh pada sebuah pulau tak berpenghuni di tengah Selat Sunda ini. Ah, saya jadi bergidik.

“Tujuannya mau ke mana, Mas?” Saya tersentak. Tiba-tiba, seorang bermata teduh itu telah berada lebih dekat dari saya. Saya benar-benar tak menyangka mendapati seorang asing membuka perbincangan pada saya. 

“Jakarta…,” jawab saya.

Lalu, kami memulai perbincangan hangat. Dari pengamatan saya, secara sekilas, lawan ngobrol saya ini adalah seorang yang cerdas, itu terlihat dari caranya bertutur. Malam ini, ia mengenakan setelan jeans dan dipadu dengan swet shirt berleher kura-kura. Sementara tas Jansport hitam menempel di punggungnya.

Dari perbincangan kami, saya menjadi tahu bahwa ia adalah seorang penggemar Chuck Palahniuk yang mengabdi sebagai jurnalis. Saya jadi teringat, selain dia, saya juga memiliki dua orang rekan yang memiliki kecintaan sama pada Chuck Palahniuk.

Kami berbincang sampai beberapa saat. Hingga kemudian, saat kami kehabisan topik perbincangan, saya kembali menyibukkan perhatian pada hamparan pekat di sekeliling saya. Saya coba menerawang jauh ke depan. Bisa saya saksikan sebuah garis berkerlap-kerlip keemasan tampak seperti membelah batas antara langit dan lautan. Saya menebak bahwa kapal ini tak lama lagi akan segera berlabuh, mengingat, garis keemasan yang saya perhatikan itu adalah pijaran lampu-lampu di sekitar bibir lautan ini.

Lalu, saya berusaha melongokkan kepala menuju hamparan lautan sembari tangan saya menggenggam erat pada tiang pembatas. Terlihat jelas oleh saya, beberapa sekoci tampak bertaburan di sekitar kapal yang kami tumpangi. Pijaran lampu berwarna keemasan tampak membikin sekoci itu terlihat indah di mata saya. Entah mengapa, sejak itu saya jadi berpikir, kelak, saya ingin menaiki sekoci tersebut di tengah kegelapan malam seperti saat ini.

“Ngeliat sekoci itu, gue jadi kepengen naikinnya.” Lagi-lagi, saya dibikin tersentak oleh ‘teman perjalanan’ saya tersebut.

“Oh, ya? Kok bisa sama, sih?” ujar saya. “Gue juga pengen, kelak bisa naik sekoci di tengah malem. Gue cuma pengen tahu rasanya. Ah, pasti mendebarkan banget,” tambah saya.

Mendengar saya, ‘teman perjalanan’ saya tersebut tersenyum hangat. Ia seperti menyetujui tentang pernyataan saya. Banyak hal yang kami perbincangkan sepanjang perjalanan, hingga kemudian kapal yang kami tumpangi memekikkan terompet sebanyak 3 kali, menandakan kapal akan segera berlabuh.

Saya, perlahan bersiap-siap turun. Hal yang sama juga dilakukan oleh ‘teman perjalanan’ saya tersebut. Memang, hal yang menyenangkan adalah ketika mendapat teman baru saat dalam perjalanan. Namun, hal yang membuat hati ‘sesak’ adalah saat harus berpisah dari ‘teman perjalanan’ tersebut.

Dan, hal yang paling menggelikan, sejak tadi, kami lupa saling mengenalkan nama. Namun, ‘teman perjalanan’ saya itu segera mengejar saya yang hendak menaiki bus yang saya tumpangi. Lalu, ia mengulurkan kepada saya sebuah kartu nama berwarna hijau muda. Saya berterima kasih padanya, dan berjanji akan menghubunginya segera. 

Kami pun berpisah.[]

Lights

Kemarin, aku sempat mengeluh atas apa yang terjadi. Menyalahkan diri dan kehidupan. Bahkan, Tuhan pun turut menjadi sasaran untuk disalahkan.

Sebab, beban yang kurasa menjadi begitu berat karena keberhasilan yang selalu tertunda. Aku sempat berhenti tertawa, pikiranku mengembara dalam ruang gelap. Menangis dalam genangan duka.

Duduk bersila, tangan menengadah, sembari mulut berkomat-kamit memohon keadilan. Dengan derai air mata, memanjat doa, berharap Tuhan mengabulkan pinta.

Namun, apakah itu cukup?

Ternyata, tidak.

Ratapan hanya akan menjadi rantai yang terus menghambat langkah kaki. Adanya masalah bukan untuk dipuja dan ditangisi. Namun, agar mengingatkan kita untuk selalu waspada. Membuat kita bangkit dan kembali pada sesuatu yang telah kita rintis. Karena dasarnya, masalah hadir sebagai proses pendewasaan.

Yakinlah, jalan hidup setiap orang berbeda: ada yang terus-menerus nyaman dalam dekapan hangat, ada pula yang harus terjatuh dalam kobaran duka.

Namun, kini aku percaya, setiap beban dan kesukaran akan ada jalan. Cukup berikan ruang pada perasaan, dan biarkan insting dasar kita yang bicara.[]

Saya Orang yang Mudah Di-bully, Katanya.

Beberapa waktu lalu, dalam keadaan saya yang sedang kacau karena mengerjakan beberapa hal dalam sekali waktu—menyicil skripsi dan mengedit naskah—saya menerima telepon dari seorang sahabat. Awalnya, saya tak ingin meladeninya terlalu lama. Mengingat, saya harus segera membereskan beberapa pekerjaan saya tersebut. Namun, saya tak bisa menolak ketika sahabat saya tersebut menceritakan perasaan sukacitanya karena telah berhasil menyabet gelar sarjana.

Saya turut bahagia, meskipun dalam hati saya sedikit iri (dan saya menjadi terpacu) karena sampai detik ini, proses skripsi sidang saya masih tertunda. Saya juga meminta maaf pada sahabat saya tersebut, karena ketika sidang saya tak bisa datang. Seperti yang sudah saya duga, dia memaklumi saya.

Akhirnya, saya meluangkan waktu. Dan, kami berbicara panjang lebar. Dia bertanya bagaimana dengan pekerjaan saya. Saya bilang, “Gue sangat menikmati pekerjaan gue.” Lalu, hal yang membikin saya tercenung adalah saat mendengar dia bertanya, seperti ini, “Kamu nggak di-bully, kan?”

Jujur, saya benar-benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Mungkin, karena dia sahabat saya, sehingga banyak tahu tentang diri saya. Namun, hingga sekarang saya tidak mengerti apa modus dia bertanya seperti itu.

Sebelum menjawab pertanyaannya, saya tercenung sebentar. Saya malas menjawab pertanyaan itu, sehingga saya menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan, “Kenapa lo nanya gitu?”

“Karena lo tipe orang yang gampang di-bully....”

Deg! Jantung saya seperti berhenti berdetak. Awalnya, saya pikir dia cuma bercanda. Namun, sepertinya tidak. Saya cuma terdiam medengar kalimat jujurnya. Mungkin, kalau di atas kepala saya ada tutup teko, barangkali tutup itu sudah terjatuh sangking tidak kuatnya menahan panas. Namun, saya tak bereaksi apa-apa. Dia sahabat saya, mungkin dia hanya mengkhawatirkan saya, batin saya.

Lalu, dia bercerita banyak hal; tentang saya. Yang saya ingat, selain ia bilang bahwa saya adalah tipe orang yang gampang di-bully, ia juga banyak memuji banyak hal tentang saya—dia memang tak berubah sejak dulu. Namun, entah mengapa, hal yang membuat saya kepikiran hingga sekarang adalah pernyataannya tentang saya yang mudah di-bully

Saya menyadari. Benar-benar menyadari dan menganggap pernyataan sahabat saya itu ada benarnya. Saya sempat mengingat masa lalu saya. Dan, ya, ada satu kesimpulan yang sebenarnya tak pernah benar-benar saya sadari sejak dulu, bahwa: Bully itu bagian hidup saya, dia mengiringi pertumbuhan saya sejak kecil hingga sekarang. Menyedihkan! 

Saya bahkan pernah berusaha  menilai diri saya sendiri; apa yang salah dengan diri saya? Dan, sesungguhnya saya menemukan banyak sisi negatif dalam diri saya (meskipun saya percaya, setiap orang tidak mungkin terlahir sempurna): tidak tegas, penakut, dan tidak percaya dengan diri saya sendiri. 

Menemukan tiga hal negatif tersebut, saya kembali berusaha untuk mengubah diri saya: yang mulanya terkenal sebagai sosok ceria dan cerewet, sekeras hati saya redam---dan masih banyak hal lain yang saya lakukan, sehingga saya tidak lagi menjadi saya. Sampai sekarang, saya malu menampilkan kembali diri saya yang ceria dan gampang berbaur, karena takut di-cap sebagai seorang lelaki yang banyak omong (atau ke-wanita-wanitaan). Ah, banyak hal, sebenarnya. Intinya, seharusnya yang saya lakukan adalah bertindak tegas, berani, dan percaya dengan kemampuan diri---tanpa mengubah "esensi" saya.

Namun, kini, ketika mengingat (dan merasakan kembali) tindakan bully itu, tidak lantas membuat saya terpuruk dalam kekecewaan, tapi sebaliknya: Saya bangga dengan diri saya, dan akan tetap menjadi saya. Saya yakin, setiap manusia diciptakan dengan keunikan masing-masing, dan yang harus saya lakukan adalah menjaga keunikan saya dan mengikis energi negatif yang (jika saya tidak mengantisipasinya) akan semakin menebal seiring pertumbuhan saya menjalani tahap kedewasaan.

Menjadi Editor (yang Berciri Khas)

“Untuk menjadi editor yang baik, lo harus punya ciri khas!” kata Christian Simamora yang akrab dipanggil Abang, dalam sebuah perjalanan ke kantor redaksi GagasMedia. 

Meski yang diungkapkan oleh Abang hanya sebentuk obrolan ringan, tetapi saya benar-benar mencatat pernyataan tersebut secara cermat dalam kepala. Saya memang butuh motivasi dan sharing knowledge dari senior editor semacam Abang. 

Beberapa hari sejak obrolan di sebuah taksi tersebut, saya coba ingat kembali. Saya sadar, apa yang Abang kemukakan ada benarnya. Jika ingin survive dan menjadi editor profesional, maka, saya harus memiliki ciri khas. 

Jika Abang mencontohkan Gita Romadhona, yang memiliki ciri khas dalam hal gaya editing―yang sangat peka terhadap EYD, dan sebagainya―sementara saya pribadi, menganggap Abang sebagai seorang yang peka terhadap segala genre fiksi (terbaru)―terutama dalam hal romance. Abang adalah seorang yang kuat dalam hal riset. Bahkan, pengetahuannya dalam dunia perbukuan sudah “tingkat dewa”―setidaknya, itu yang saya rasakan ketika berdiskusi dengannya. 

“Terus, kalau ciri khas gue kira-kira apa ya, Bang?” Pertanyaan yang kira-kira hampir sama dengan saya itu, lebih dulu dikemukakan oleh Michan (salah satu Editor “seangkatan” dengan saya). Saya tidak ingat persis apa jawaban Abang. Tetapi, yang saya ingat, Abang juga meminta kami untuk fokus mencari hal yang kira-kira bisa kami angkat menjadi ciri khas. 

Abang bilang, jalani semua hal yang harus dikerjakan. Dalam artian, ketika saya diminta untuk mengedit sebuah naskah yang tidak menarik minat saya, saya harus tetap menjalaninya dengan senang hati. “Gue dulu sering disuruh ngedit naskah yang nggak gue ngerti. ‘I Can (not) Hear’ salah satunya. Gimana gue dulu bersusahpayah buat nyari angle dan bikin orang jadi menyukai cerita tersebut. Gue dulu, waktu awal-awal masuk, juga disuruh ngedit novel yang sastra banget, karyanya Ita Sembiring. Dan gue deg-degan banget, karena nggak terbiasa mengedit naskah kaya gitu. Nggak nyangkanya, ternyata novel itu cetak ulang.” 

Begitulah. Saya sendiri sebenarnya tipe orang yang suka mengeluh saat harus mengedit naskah yang “nggak saya banget”. Ketika awal masuk GagasMedia, saya ingin memfokuskan untuk menjadi editor fiksi. Saya seperti tidak percaya diri jika harus mengedit naskah-naskah non fiksi. 

Tapi, ternyata, Tuhan seperti menjodohkan saya pada genre non fiksi. Saya merasa nyaman saat harus mengedit tulisan-tulisan yang “berbau” non fiksi. Karena, pikir saya, sembari mengedit, saya juga bisa sambil belajar tentang topik-topik yang sedang dibahas dalam buku tersebut. 

Bahkan, saya adalah orang yang tidak menyukai buku-buku komedi (semacam personal literature), tapi ketika kepala desk non fiksi meminta saya untuk membantunya, saya mencobanya. Dan seiring ketelatenan saya mengedit naskah bergenre tersebut, saya seperti menemukan “jiwa” yang baru. Saya yang dulu tak menyukai genre komedi, secara tiba-tiba menjadi tertarik dan menikmatinya saat melakukan proses editing. 

Di sisi lain, saya juga diminta untuk mengerjakan proyek fiksi. Saya harus mengedit novel, dan bahkan mencari penulis. Tapi, saya tak berkeberatan. Saya mulai bisa menerimanya dengan senang hati, meski terkadang konsentrasi saya harus perpecah saat harus mengedit dua genre yang berbeda sekaligus: fiksi dan non fiksi. 

Saya percaya, dengan mendalami dua genre sekaligus, saya bisa menilai, di mana letak kemampuan saya. Dan seiring waktu berjalan, saya yakin, akan menemukan faktor X yang akan menjadi ciri khas saya sebagai editor. Mungkin, segera![]

Multitasking

Menjadi editor memang pernah masuk daftar teratas dalam cita-cita saya―terutama saat saya masih menyandang sebagai pelajar berseragam putih abu-abu. Namun, sejak kuliah, saya telah mengubur impian tersebut―terutama saat memasuki tahun kedua. 

Terlebih, saya sadar, background pendidikan program S1 saya tak ada sangkut-pautnya dengan dunia editing atau perbukuan. Saya belajar ilmu editing, murni secara otodidak―karena pada dasarnya, saya sangat menyukai aktivitas kepenulisan. 

Namun, saat mendapat kesempatan itu (menjadi editor), entah mengapa, saya seperti menemukan kepingan “saya” di masa lalu yang sempat hilang. 

Saya memiliki beberapa pertimbangan, selain karena perjuangan untuk mendapatkan “tiket” menjadi editor di penerbit tersebut butuh perjuangan panjang, juga karena pada dasarnya, saya sangat menyukai kualitas buku-buku di sebuah penerbit yang akan menjadi tumpuan bagi hidup saya tersebut. 

Ini kesempatan langka, batin saya. Sehingga, saya mencobanya! 

Padahal, saat ini, saya masih harus menyelesaikan skripsi. Tapi, rupanya, saya terlalu muak untuk bergelut dengan “permainan” skripsi. Sehingga, ketika mendapat kesempatan menjadi editor, saya menerimanya. Dengan keyakinan, saya akan bekerja sembari menyelesaikan skripsi saya yang tinggal analisis data.

Ternyata, semuanya hanya teori. Saya baru menyadari, sangat susah untuk bisa multitasking; mengerjakan dua hal sekaligus dan bisa tetap fokus pada keduanya. Itu yang terjadi pada saya saat ini. 

“Kerja dan mengerjakan skripsi atau mengerjakan skripsi dan kerja!” 

Saat menuliskan kalimat di atas pun, tampak keraguan pada diri saya untuk menaruh kata kerja dan mengerjakan skripsi; manakah yang harus didepankan dan didahulukan. 

Sejauh ini, setelah beberapa minggu menjalani keduanya, ternyata yang benar-benar menjadi “korban” adalah proses pengerjaan skripsi saya. Sebenarnya, mudah saja untuk menyelesaikan skripsi saya yang tinggal olah data. Saya tinggal meminta jasa orang lain, dan membayarnya. Beres. 

Tapi, saya tak ingin seperti itu. Pikir saya, kuliah sarjana hanya sekali. Maka, saya harus benar-benar memaksimalkan hasil pengerjaan skripsi saya dengan hati dan pikiran saya sendiri―dengan harapan, saya bisa lulus sesuai waktu yang ditargetkan. 

Dan yang terjadi, saya harus mengorbankan lebih banyak jadwal tidur saya. Ah, bukankah hidup memang sebuah pilihan? Kalau saya bersikeras menjalani keduanya, berarti saya harus rela menanggung konsekuensi-konsekuensi tersebut. 

Dan sepertinya, saya akan terus maju menjalani keduanya!

Random Thought #1: Kopi & Menulis

(Caption: Zig Zag Capuccino)

Jika ayah saya seorang penggemar teh, saya sebaliknya. Tak begitu menggemarinya. Sebab saya lebih tertarik dengan minuman berkafein yang bernama kopi. Entahlah, dari siapa kebiasaan minum kopi ini ditularkan. Di keluarga saya, tak satu pun yang menyukai kopi―bahkan mereka cenderung anti-kopi.

Kebiasaan saya minum kopi dimulai sejak SMA, ketika saya sudah hidup mandiri dari orang tua (mandiri dalam artian tinggal di tempat terpisah). Karena memang, saya lebih memilih tinggal di sekolah berasrama.

Saat itu, intensitas saya dalam mengonsumsi kopi masih jarang. Karena terkadang, saya malas dan bahkan tidak sempat meracik kopi sendiri.

Sekarang, sebaliknya. Akhir-akhir ini saya terlalu menggandrungi kopi. Saya malah bertekad untuk menikmati semua cita rasa kopi dari seluruh dunia. Bahkan, di Bandung, saya punya tempat ngopi favorit. Selain karena cozy, tempat saya ngopi tersebut mempunyai sajian menu kopi khas yang membikin saya jatuh hati setengah mati, yakni Zig Zag Capuccino dan Stairyway to Heaven―ah, ya, nama kopi satu ini akan mengingatkan kita pada Led Zepplin, bukan? 

Selain menggemari kopi, saya juga mencintai salah satu aktivitas yang bagi saya sangat menyenangkan: menulis. Lagi-lagi, saya bingung, dari mana bakat menulis ini saya peroleh. Keluarga saya bukan tipe orang yang menyukai dunia kepenulisan. Bahkan kedua kakak saya tak sama sekali mencintai dunia membaca, bahkan menulis!

Akhir-akhir ini, intensitas saya dalam menulis cukup sering. Bahakn, saya menetapkan target, dalam satu hari harus menulis minimal 1 halaman. Jumlah tersebut terhitung sangat minim. Sebab, saat ini saya sudah terlibat dalam banyak kesibukan. Bahkan, tulisan saya terakhir kali dipublikasikan setahun silam. Itu pun hanya sebentuk cerita pendek, yang dimuat oleh sebuah majalah remaja.

Bagi saya, menulis adalah aktivitas yang luar biasa menyenangkan. Biasanya, saat isi kepala banyak terkontaminasi stress, selain duduk di tengah keramaian, pelampiasan yang saya lakukan adalah menulis dengan ditemani (aroma) secangkir kopi, bersama Ree―sahabat terbaik yang tak terdefinisikan. Ah, menyenangkan![]

Cicak di Dinding Kuning


Malam ini ada cicak kawin di dinding kamar saya. Sebelumnya, saya mengamati kedua pasangan cicak itu sedang berkejar-kejaran di dinding kuning yang terpapar luas. Seakan ketika mengamatinya, saya sedang menonton kisah pecintaan di sebuah bioskop. Dan yang saya bayangkan, saya sedang menonton film India. Dinding kuning itu sebagai layar monitornya, sedangkan kedua cicak itu adalah aktor yang menghibur saya. Bagai Kajol dan Syahrukh Khan yang berkejar-kejaran dan sedang berputar-putar di sebatang pohon sembari menyanyikan “Kuch Kuch Hota Hai”. Ah, tapi saya harus realitis. Sebab yang saya amati cuma sepasang cicak (yang hendak kawin).

Memang sejak beberapa hari ini, entah mengapa, cicak itu selalu ada bersama saya disaat saya sedang galau sembari mengurung diri di dalam kamar. Bahkan anehnya, kedua cicak itu sampai berani-beraninya turun ke lantai dan tanpa takut masuk ke dalam plastik putih yang berisikan makanan yang baru saja saya beli dari Alfamart di sebelah tempat kost saya. Aneh memang. Tapi saya biarkan cicak itu mengorek-koreknya, sampai plastik tersebut bergerak-gerak dan berbunyi.

Born This Way


I’m beautiful in my way/ Coz God makes no mistake/
I’m on the right track/
Baby, I was born this way//


[Lady Gaga]



Saya selalu menyukai sebait lirik tersebut. Menceritakan tentang kebebasan pandangan terhadap kesempurnaan seseorang. Saya sadar, saya hidup di lingkungan yang kerap mengkotak-kotakkan segala kesempurnaan berdasarkan apa yang dianggap lingkungan benar: cantik itu harus berkulit putih, tampan itu harus berpostur ideal, wanita cantik itu harus begini, pria tampan itu harus begitu. Ah, begini-begitu, hanya ilusi! Hmm.


Sebenarnya, apa yang dipikirkan masyarakat tersebut memang ada benarnya. Tapi bagi saya, parameter cantik atau tampan tidak hanya berdasarkan pandangan tersebut. Menurut saya, cantik itu bisa berkulit hitam atau putih. Tampan itu bisa berpostur ideal atau bahkan cenderung kurus―seperti saya. Tapi buktinya, puluhan atau bahkan ratusan iklan menciptakan pandangan bahwa kecantikan atau ketampanan itu seperti apa yang mereka ciptakan.


Saya penah mendengar, bahwa di dunia ini kenyataan adalah ilusi yang kita ciptakan sendiri. Dan kata teman saya, “hanya orang bodoh yang sampai percaya dengan ilusi yang diciptakannya.”


Saya sadar, bahwa industri iklan terus menciptakan hasrat (creating desire). Hasrat yang sebelumnya tidak disadari oleh wanita atau pria lokal. Hasrat yang sebelumnya tidak diketemukan dalam benak mereka. Hasrat yang nggak penting dan baru jadi penting ketika ada ilusi yang menawarkan “anda bisa jadi begini kalo pake ini!” Wooahh!


Dari Dian Sastro sampai Mariana Renata, dari Rio Dewanto sampai Darius Sinatria, dari Sex and the City sampai Desperate Housewives, dari Britney Spears sampai Lady Gaga. Dan siapapun itu yang berhasil menciptakan hasrat kebanyakan wanita dan pria Indonesia untuk bisa memiliki kulit putih, tubuh langsing atau ber-six-pack, dan rambut lurus, adalah seorang marketer hebat yang pastinya sekarang sudah sugih.


Lewat iklan, hasrat pun jadi sebuah mimpi yang terlaksana. Merasa putih setelah memakai Ponds White, merasa tampan setelah pakai Vaselin Men, merasa mapan setelah punya Clear Card Citibank, merasa dekat (maaf, bukan mirip) dengan Dian Sastro setelah memakai Loreal, merasa disayang suami dan mertua saat beli sabun cuci Surf.


Hasrat tak akan berhenti selama kita masih bisa menciptakannya. Tak ada api tak ada asap. Tak ada iklan tak ada keinginan. Sampai kapanpun mungkin keinginan manusia terus dipermainkan dan di-upgrade setinggi-tingginya oleh iklan. Seperti halnya kecantikan lokal itu yang kini sepertinya mengalami upgrading yang luar biasa, dari kuning langsat (Citra tahun 1988) sampai putih bersinar (Citra White).

Think Become Thing


Sepertinya, semua manusia yang memiliki akal dan impian akan berharap bisa menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi kebanggaannya, sedikit-banyak mampu memuaskan dahaganya akan keindahan hidup yang sesungguhnya.

Karya itu dihasilkan dari sebuah rangkuman tanpa wujud yang bisa muncul dari sebuah usaha berpikir. Tapi sampai setaraf apakah karyanya, bisa berefek bagi oranglainkah, bisa mencapai tataran hebatkah, atau bahkan mungkin hanya untuk kepuasan pribadikah?

Taraf karya yang dihasilkan itu membutuhkan pemikiran dengan bobot yang sama, jika memikirkannya saja enggan, bagaimana mungkin bisa menghasilkan karya yang luar biasa?

Akan cukup sulit, mungkin, untuk bisa berpikir dengan taraf yang “dalam” jika kita terikat aturan yang sebenarnya kita bikin sendiri: malas, bebal, apatis, dan sebagainya.

Jika sudah begitu, ayolah, jangan malas, bebal, apalagi apatis dalam berpikir! Mari berkarya… Zuma!

Last Year Sticknotes

Tahun terus saja berganti, dan ini sudah menjadi suatu tradisi yang turun temurun. Coba saja jika tak ada pergantian tahun dan selamanya tetap seperti itu saja, kita tidak akan pernah berumur, akan tetap di masa yang sama meskipun dengan kondisi fisik yang berbeda. Coba kau bayangkan! Sesuatu yang mengesankan, atau malah mengerikan?

Sejarah: yang manis kita rayakan. Yang pahit kita catat, agar kelak tidak terjadi lagi.
—Quote from “Ruma Maida”—

Tak terasa, hari sudah di penghujung tahun kembali. Bagai sebuah buku yang sudah sampai halaman belakang. Semua cerita yang mengisi di tahun 2010 bagai teringat kembali, baik hal yang buruk atau pun hal yang menyenangkan. Walau banyak hal yang belum sampai sasaran, setidaknya kita belajar bahwa kita diingatkan untuk tetap semangat dan tidak putus asa.

Dulu, apa artinya dulu, sering sekali kita mengucap kata ini untuk menyebut waktu yang sudah berlalu. Mungkin adalah tentang sebuah kebanggaan yang musti diungkit-ungkit untuk menguatkan kepercayaan diri, atau mungkin, dulu yang kita dapat adalah suatu kesedihan yang musti tertutup rapat agar tak muncul dan membuat luka yang baru. Apapun itu, yang pasti itu sudah terjadi, biarkan dulu menjadi masa lalu, masa yang pernah kita jalani dengan terjatuh, tersandung-sandung ataupun dengan leluasa berlari karena begitu mudahnya.

Batas antara dulu dan sekarang hanya dipisahkan oleh segaris waktu tipis yang akan terus berdentang setiap detiknya, dan itu terjadi begitu cepat tanpa disadari. Apa yang kita lakukan saat ini sebentar lagi akan menjadi usang dan tinggal cerita, itulah perlunya kesadaran, untuk mengingatkan tentang apa yang harus kita lakukan agar dulu kita menjadi sesuatu yang pantas untuk dibanggakan dan menjadi sebuah cerita yang manis.

“Dengan menuliskan kewajiban yang tak terselesaikan, kebimbangan, dan kebutuhan mendatang di atas kertas, Anda telah membebaskan diri untuk berfokus pada yang terpenting.”
—Robert K. Cooper—

Indonesia (Tak Perlu) Menangis


Oleh Jumali Ariadinata


Tuhan, marahkah kau padaku/ Inikah akhir duniaku/ Kau hempaskan jarimu di ujung bandang/ Tercenganglah seluruh dunia/ Tuhan, mungkin Kau kuabaikan/ Tak kudengarkan peringatan/ Kusakiti Engkau sampai perut bumi/ Maafkan kami ya Robbi….

[“Indonesia Menangis” – Sherina Munaf]

Kita tahu, bahwa semua yang ada di dunia ini berasal dari yang Maha Kuasa—ada anugerah, ada pula bencana—dan jika itu sudah digariskan oleh Tuhan, kita tidak bisa untuk menolaknya. Begitu pula dengan bencana yang gencar terjadi di Indonesia: mulai dari Merapi, Wasior, sampai gempa bumi & Tsunami di Mentawai. Mereka (para korban) juga nggak bakal menyangka jika ada sesuatu petaka dahsyat yang bisa membikin segalanya hilang: nyawa, harta dan bahkan harapan.

Dengan ini, saya telah menyiapkan (sejenis) rangkuman 3 berita yang “menghebohkan” mengenai bencana di Indonesia (untuk majalah dwi wulan yang saya asuh, namun ketika saya tampilkan di blog ini, sudah saya sunting sebegitu dalam). Tentu, berbagai bencana yang datang silih-berganti di sepanjang tahun ini adalah tonggak buat menjadi pengingat kita, bahwa kapan dan di mana saja musibah itu bisa terjadi. Dan mengingatkan kita, bahwa konsep destruksi massif bumi itu ada. Berikut ringkasan beritanya.

Letusan Merapi


Lokasi bencana ini cukup deket sama pemukiman warga, makanya ketika bencana ini terjadi, semuanya panik. Gunung Merapi sendiri berada di perbatasan wilayah Provinsi DIY dan Jawa Tengah. Bahkan, Merapi merupakan gunung berapi yang paling aktif di Indonesia. Kalau lagi tenang, gunung ini banyak membawa berkah, tapi kalau lagi ngamuk, semuanya dilibas sama “wedus gembel”-nya. Sebenernya merapi punya siklus 4 tahunan, tapi tahun 2010 ini adalah salah satu yang terdasyat. Korban tewas yang berhasil dihimpun ada sekitar 126 orang, termasuk juru kunci merapi, Mbah Maridjan.

Curcol #2

Kok tahun 2010 ini bintang gue kurang cemerlang ya?
Nggak ada prestasi wah yang sepanjang tahu ini bisa gue capai lagi.
Bahhh... gue lebih nyaman terkungkung dalam satu kotak,
sehingga cenderung cari aman.
Nggak berani berpikir out of the box lagi,
barangkali karena udah males oleh banyaknya saingan?

Diiihhh... kranjingan bangets gue kalo mikir gitu!

Bulan Miskin


Gue lagi miskin nih. Bulan lalu cuma baca 6 buku dan kesemuanya adalah fiksi/novel. Bahhh... padahal gue udah memutuskan untuk gak baca novel aja, tapi lebih gue banyakin koleksi dan baca buku biography, self building atau lifestyle gitulah, biar pikiran gue semakin "liar" dalam menulis, gak cuma fiksi tapi juga yang realitas juga. hehe....

Pasar Seni ITB 2010


Hari minggu 10 Oktober lalu, saya dan beberapa rekan kampus berduyun-duyung mendatangi arena kampus ITB untuk turut meramaikan jalannya Pasar Seni yang diadakan oleh institusi pendidikan tersebut.

Suer deh, seandainya gak ada desakan liputan dan tugas dari dosen, sebenarnya saya sedikit pikir-pikir buat datang ke acara tersebut. Sebab suasananya benar-benar membikin saya geregetan. Gimana enggak? Sebab saya harus jalan kaki dari Simpang Dago sampai eks Pasar Balubur cuma gara-gara jalan penuh sesak oleh kendaraan yang sama sekali gak bisa jalan. Beuuhhh… gerah, panas, dan berdesak-desakan dengan pengunjung lain.



Begitu sampai di arena stand, rasa jengkel saya sedikit terobati setelah saya melihat beberapa karya yang dipamerkan stand-stand yang ada cukup menarik minat saya. Sebenarnya banyak stand yang menarik di Pasar Seni tersebut. Namun, menurut saya, Komunitas Pelayang Bandung cukup keren. Di mana pada stand tersebut banyak terdapat Layang-layang dengan berbagai macam bentuk yang unik dan tentunya dengan desain yang menarik.

Bukan hanya Layang-layang saja hasil kreativitas yang dipamerkan di stand tersebut, tetapi, uniknya, pada stand tersebut terdapat pula hasil karya yang tidak kalah unik, yakni, pesawat mainan dengan desain yang menggunakan bahan dari sejenis kertas, dengan baling-baling plastik yang bener-bener keren!

Produk kreativitas tersebut dikemas dalam kemasan yang menarik, sehingga produk tersebut menjadi souvenir yang menarik, baik sebagai hadiah, oleh-oleh untuk kerabat dan keponakan, dll. Menariknya, pesawat tersebut sudah dinamai dengan berbagai macam nama & tipe tertentu, ada Marines 8H341, Bali, Navi dengan tipe tertentu, dll.

Cara kerja pesawat ini cukup simple, dan kita dengan mudah dapat menggunakannya. Hanya dengan memutar baling-baling sebanyak yang kita mau, maka, pesawat mungil itu akan terbang sesuai dengan banyaknya putaran baling-baling pesawat tersebut.

Menurut penjaga stand, bahwa pesawat mungil mainan tersebut sudah dilakukan riset dan membuktikan bahwa dari 1000 pesawat yang diterbangkan, ternyata hanya 3 pesawat yang hilang, dan itu membuktikan bahwa pesawat tersebut memang sudah teruji (terutama dari segi kualitas).

Saya rasa, memang, pasar seni merupakan pesta seni yang menarik dan sangat menghibur sekali. Rasanya kerinduan akan pageleran seni yang menarik semacam ini dapat terus dinikmati pengunjung dan penggila seni di Kota Bandung. Sebuah hiburan yang mengobati kehausan nurani pengunjung. Bandung pada hari ini macet total, tapi suasana ini tidak menyurutkan masyarakat dan pencinta seni untuk merasakan kegembiraan bersama di lokasi Pasar Seni ITB tahun ini.


Namun, seandainya saya punya kuasa buat curhat atau kasih usulan dengan panitia acara, saya pengin kasih beberapa kritik dan saran buat tim mereka, tentang: masalah keamanan dan ketertiban yang harus perlu ditingkatkan, sebab banyak sekali teman-teman dari kampus saya yang harus kecewa dan menyesal datang dalam acara tersebut dikarenakan kecopetan, dompet hilang, handphone lepas dari tangan (haha).

Dan lagi, masalah tata letak stand/stage yang harus lebih diatur dengan baik lagi, agar pengunjung lebih menikmati suasana pasar seni tersebut. Tempat parkir yang sangat minim, menyebabkan pengunjung sembarang parkir sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan panjang. Pusat stand atau informasi tidak hanya ada di pintu depan saja, sebab banyak juga pengunjung yang datang dari arah pintu belakang ITB (dan bahkan banyak orang yang tidak tahu akan letak dari pusat informasi itu sendiri). Satu lagi yang terlupakan, WC Umum yang kurang nyaman, dan kurang mencukupi kapasitas pengunjung yang jumlahnya sangat membludak. Dan yang sungguh mengherankan, ketika saya akan buang air, saya harus ngantri panjang dan harus memanjat tangga untuk menuju ke WC (yang hanya sebentuk mobil truck) di antara kerumunan pengunjung.

Semoga peregelaran pasar Seni ITB 4 tahun ke depan lebih semarak lagi dan dijadual dengan baik. Simpul-simpul kemacetan di kota Bandung nantinya dapat terurai dan masyarakat semua dapat menikmati hiburan gratis ini dengan nyaman dan teratur, semoga saja.

Arena Bermain


Pas lagi mau jalan sama pacar dan temennya pacar saya di TimeZone - BIP, saya kebetulan lewat pameran fotografi, pameran mini demi menyambut ultah Bandung ke-200 yang bertajuk "Pameran Esai Foto 200 Tahun Bandung".

Karena saya tidak suka main game , sampai kahirnya saya melihat-lihat sebentar karya foto di sana. Semuanya tampak terpajang potret mengenai Kota Bandung. Lalu saya baca caption di bawah fhotografi tersebut. Ada yang mengangkat tentang tema pemadam kebakaran, anak-anak jalanan, kebudayaan Sunda, gedung tua, dan lain sebagainya. Namun, ada 1 karya yang menarik bagi saya dari karya-karaya fhotografi yang memukau tersebut, yakni “Arena Bermain”, karya dari seorang fotografer dari Tempo. Karya fotografinya unik. Menarik. Mengingatkan saya akan masa kecil yang penuh tawa ketika menjajal satu per satu arena bermain seperti yang tertangkap dalam fotografi tersebut.
Hmmm… kok saya jadi terharu ya? hiks hikss...



motivasi diri gue hari ini #1

"suatu saat jika daku jadi orang hebat, berkedudukan, kaya dan punya nama, kuyakin akan banyak yang ngantri demi menjemput cintaku. lol. maka, dari sekarang, daku harus mencoba untuk mulai membangun tujuan itu. berkarya dan terus mengembangkan kreasi, tiada henti, sampai daku mencapai titik puncak tertinggi. lol"

Memory Lock: Goodbye, masalalu!

Gue baru nyadar bahwa perasaan gue ini sangat nggak berharga buat dimiliki lagi. Tak ubahnya seperti barang bekas yang harus sudah dibuang atau dibakar sampai musnah. Tak sepatutnya jika gue pengen jalan ke depan tapi kepala gue berputar ke arah belakang, bisa bisa gue tertabrak. Atau gue bakalan nyesel seumur idup karena telah menghabiskan sebagian waktu gue buat menyimpan perasaan nggak berguna ini sementara sisa hidup gue baru gue pakai buat menyesali dan baru menyadari ternyata gue telah membuang banyak kesempatan. Nggak. Jika gue harus bertahan untuk mengingatnya kembali, itu karena gue orang yang sangat bodoh.

Kecuali jika gue pengen menuliskannya kembali ke dalam bentuk cerita yang membuat semua orang yang membacanya bisa merasakan penyesalan yang sama. Kecuali gue menceritakan kisah lama dan perasaan ini ke dalam bentuk narasi yang tak bisa terlupakan. Jika saja itu terjadi, mungkin gue akan sedikit lega karena nggak akan menyimpannya lagi di dalam hati tetapi di dalam sebuah buku yang lebih gampang gue buang atau gue bakar sampai musnah.

Gue sudah berpisah lama dengannya. Bagaimana caranya agar gue bisa menaruh titik setelah kalimat itu. Tanpa koma atau tanpa cerita-cerita masa lalu lainnya yang sangat membosankan.

Apakah intinya adalah bahwa gue orang yang suka menyakiti perasaan sendiri dengan pisau-pisau memori yang tajam. Sementara itu, gue tahu dia tidak sama sekali merasakan hal yang sama dengan gue. Kecuali kalau gue berharap demikian dan seolah-olah gue mempercayai bahwa diantara kami timbul ikatan batin yang begitu kuat, saling berucap janji bahwa perasaan masing-masing akan tetap seperti dulu. Omong kosong!

Ada jarak yang jauh yang tak pernah lagi bisa saling bersinggungan bahkan dalam bentuk ikatan apapun. Gue dan dia meskipun berada dalam satu ruangan tidak lagi saling memberikan aura dan energi yang familiar. Seperti dua orang asing yang baru bertemu tapi enggan berkenalan. Karena kita mempunyai sejarah buruk, memori yang sulit dihapus, atau kegilaan berupa kesepian yang tak pernah tergantikan. Di titik itu, kami berdua memiliki pintu kosong yang hampa tapi tak pernah lagi terisi. Dan kita pun tak mau mengisinya lagi dengan cetakan-cetakan keburukan mengenai persahabatan palsu.

Jadi bagaimana teman, sahabat? Sebaiknya kita saling mengunci pintu masing-masing dan tidak lagi membuka-buka hanya karena ingin mencetak keburukan.

Nobody Will Understand

jika terlalu banyak menceritakan "keakuan" pada seseorang
lebih baik hentikan secepatnya,
apalagi menceritakan kejelekan diri
karena dengan begitu orang akan menganggapmu aneh
juga pada saat yang sama,
kamu akan heran dengan sebutanmu pada diri sendiri

jangan mudah percaya dan terbuka pada seseorang
meski dia kau anggap sahabat sekalipun
namun, jika kau tidak tahan dengan masalahmu
bersegeralah menghadap Tuhan
ceritakanlah kesukaranmu
bila perlu hingga kau deraikan airmatamu
karena dengan begitu, kau akan merasa nyaman
dan tak seorang pun akan membeberkan aibmu

juga tak usah terlalu mengumbar kesukaan
atau ketidaksukaan pada semua hal
trust me, nobody will understand
the reason you like or dislike it


lebih baik tertawa
dan memamerkan senyum terbaik
pada semua orang
agar yang melihatnya pun
ikut bahagia dan senang
berteman denganmu

lebih baik membagi pahala pada sesama,
berbagi cerita lucu
memberikan energi positif
pada setiap orang yang kamu temui.