Fragile Balance


ilustration from google

DI sebuah lemari tua, di suatu sudut ruangan. Di atasnya terdapat tumpukan kotak kayu, kardus, koran, majalah dan koper bekas. Lalu, perlahan aku beranjak mendekati tumpukan kotak kayu. Aku mulai menurunkan kotak-kotak tersebut. Ketika aku mengangkatnya satu per satu, debu tampak bertebaran dan menyebabkanku mencoba menangkisnya hingga berkali-kali. Argghhh… Sial!

Aku terbelalak, sebab, ketika aku membuka kotak kayu tersebut, aku menemukan banyak barang-barang kenangan sewaktu aku masih kecil dulu. Buku-buku dengan tulisan yang meleot-leot tapi lucu. Gambar-gambar gunung, padi dan sawah yang menghiasi bagian terpisah halaman buku itu.

Kotak terakhir yang kubuka berisikan album kenangan sewaktu aku masih kecil dulu. Heran, kenapa orangtuaku malah menaruhnya di tempat seperti ini? Bukan malah diletakkan di suatu tempat teristimewa. Entahlah. Yang pasti, aku berterimakasih, sebab meraka masih menyimpan semua barang-barang hasil kreativitasku semasa kecil dulu.

Ketika aku menengok album usang itu. Aku tersenyum, melihat betapa polosnya tawa dan senyum nakal di wajahku. Mengenal siapa diriku sebenarnya untuk pertama kalinya. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, tawa dan senyuman seperti yang kulihat dalam potret kenangan itu, berubah menjadi tawa dan senyum pengertian akan hidup dan kenyataan. Tidak lagi lepas, bahkan ada yang dibuat-buat, atau ada yang begitu jujurnya mengungkapkan perasaan lelah. Karena di dalam kenyataan ini, aku mulai mengenal peraturan, kewajiban, dan tanggung jawab.

Ditambah lagi, karena aku kini telah mengenal yang namanya pengorbanan. Pengorbanan dimulai dari bagaimana aku mulai belajar untuk memilih, menentukan mana yang baik untukku, mana yang tidak. Kadangkala yang aku inginkan bukanlah yang terbaik, begitu juga sebaliknya. Memilih dan mengorbankan. Membentuk siapa diriku sebenarnya untuk kedua kalinya.

Dan semoga pilihan-pilihan yang telah kubuat adalah penyeimbang dua sisi, antara lemah dan kuat. Terus-terusan memilih, terus -terusan menyeimbangkan, sehingga aku dapat menemukan siapa diriku yang telah aku bangga-banggakan.

Kemudian, kututup halaman terakhir album itu, lalu aku membawa serta beberapa barang-barang kenangan itu ke dalam kamar. Dan bersiap akan kubawa pula ke tempat tinggalku di Bandung. Tapi bodohnya saat itu aku lupa. Namun, aku tetap berniat akan membawanya kembali ketika mudik lebaran nanti. Tentu agar barang-barang kreativitas itu menjadi api yang menyulut sumbuku untuk terus berjuang menggapai hidup seperti yang kucita-citakan seperti semasa kecil dulu. Semoga saja!


Tidak ada komentar: